my graduation

my graduation

Rabu, 25 Januari 2017

Catatan Rumah Kepemimpinan 14 : Membentuk Keluarga Penuh Cinta Kasih




Selamat siang, Pembaca!
Kali ini aku menulis bukan di Coklat Klasik, tetapi di perpustakaan FIB tercinta. Kalian perlu tahu, sebetulnya perpus FIB adalah tempat yang paling nyaman untuk menulis dan membaca. Tapi, sayangnya satu. Tidak boleh membawa makanan atau minuman ke dalam ruangan. Kalau saja boleh, wah, klop sudah. Aku tidak akan kenal dengan Coklat Klasik mungkin. Hehe. Kali ini, aku akan menceritakan tentang apa yang baru saja terjadi kemarin. Tentang sebuah perjalanan hati (kata mas Hamdan).
Jadi, agenda peserta Rumah Kepemimpinan Regional 3 Yogyakarta kemarin adalah rihlah. Pada jadwal bulan Januari, yang tertulis memang rihlah istimewa. Menurut kabar yang tersebar pun rihlah ini juga akan diadakan secara bersamaan baik nakula maupun srikandi. Mau tidak mau kami penasaran juga, hendak kemana ya?
Sampai akhirnya tibalah hari itu. Kami berangkat bersama-sama menuju sebuah tempat yang mungkin sedikit asing bagi kami. Ya, Panti Sosial Tresna Werdha Yogyakarta Unitabiyoso. Mungkin ada yang bertanya tempat apa ini? Ya, awalnya aku juga tidak tahu. Lalu kata Mas Hamdan, “Bahasa umumnya, panti jompo.” Ah.. I see.
Sesampainya di sana, kami segera masuk ke dalam aula dan diberikan sedikit arahan oleh petugas setempat. Kami dibagi menjadi 12 kelompok, karena memang ada 12 wisma di situ. Aku satu kelompok dengan anak kamarku sendiri, Nur Awwalia Maulida. Kami berdua mendapat jatah wisma nomor 10, yakni Wisma Sapto Pratolo. Setelah pengarahan selesai, kami segera menuju wisma masing-masing. Awwal dan aku segera mencari Wisma sapto Pratolo. Rupanya, wisma tersebut ada di bagian paling depan. Setelah clingak-clinguk, kami perlahan masuk. Ternyata, ada beberapa petugas yang menjaga di dalam. Mereka kemudian mempersilakan kami untuk masuk. Ah iya, di bangku bagian depan, ada seorang lansia yang sedang duduk-duduk. Mungkin istirahat sehabis senam (sewaktu kami datang para lansia sedang bersiap melaksanakan senam). Kemudian kami bertanya (dengan Bahasa Jawa tentunya) apakah kami boleh berbincang sejenak, dan beliau mengiyakan.
Perjalanan hati hari ini, dimulai di sini. Nama lansia yang pertama kami wawancarai adalah Eyang Wardoyo. Beliau berumur 79 tahun dan merupakan yang termuda di wisma tersebut. Beliau juga baru dua bulan tinggal di panti ini. Sebelumnya, beliau pernah tinggal di salah satu panti di daerah Salatiga. Beliau asli Jogja dan dulunya adalah seorang dosen Ekonomi Universitas Sanatha Dharma. Kami banyak mengobrol dengan beliau. Dari cara bicaranya saja, terlihat sekali bagaimana beliau dulunya adalah seorang yang sangat cerdas dan visioner. Beliau banyak memberikan nasihat kepada kami. Salah satunya, mengenai pembelajaran bahasa. Belajar behasa menjadi salah satu hal yang penting untuk dilakukan. Beliau menasehati kami supaya bisa menguasai berbagai bahasa, utamanya Bahasa Inggris. Lantas ketika ditanya bisa bahasa apa saja, beliau menjawab, bisa berbahasa Inggris, Belanda, dan Jepang.
Oh ya, dulu Eyang Wardoyo pun pernah merasakan dinas di Jepang. Beliau menuturkan, ada satu hal bagus dari Jepang yang orang Indonesia kurang sekali dalam hal tersebut. Yakni, pengelolaan terhadap lansia dan attitude. Beliau menceritakan, “Kalau di Jepang, di supermarket saja, kalau yang datang adalah lansia, maka anak muda/petugas setempat akan secara otomatis membantu menuntun lansia tersebut berjalan, serta membawakan tas mereka. Tapi di Indonesia, jangankan seperti itu. Terkadang kita banyak melihat fenomena di kereta, saat ada lansia yang tidak kebagian tempat duduk, anak mudanya tidak secara otomatis berdiri dan mempersilakan lansia tersebut untuk duduk, masih mikir-mikir. Nah ini yang kurang dari Indonesia.” kata beliau. “Sekarang tata krama mulai pudar.” beliau menambahkan. “Padahal dulu jaman saya sekolah, tata krama itu diajarkan betul. Jarak antara orang tua dan anak itu jauh sekali. Kalau sekarang kan, anak dan orang tua kayak teman saja kan.” (Bicaranya dengan Bahasa Jawa ya, tapi kutuliskan dalam Bahasa Indonesia)
Lalu, ada satu hal yang membekas di hatiku sebelum kami mengakhiri percakapan pagi ini. Ketika ditanya, pesan apa yang hendak eyang sampaikan, beliau menasihatkan,
“Di sini latar belakangnya macam-macam, Nak. Ada yang dibuang, ada yang ditelantarkan, macam-macam lah. Makanya pesan saya, jangan pernah menelantarkan orang tua. Karena itu adalah perbuatan dosa yang sangat jahat. Bentuklah keluarga yang penuh cinta kasih. Loving family. Karena sejatinya tidak ada orang tua yang mau menjerumuskan anaknya. Mereka pasti akan senantiasa mendoakan, membantu, dan meperjuangkan anak-anaknya. Mereka telah merawat kita sampai besar, karenanya jangan pernah menelantarkan orang tua. Karena semua yang muda-muda seperti kalian ini, kelak akan menjadi tua dan lemah juga seperti kami.”
Aku tersenyum. Terimakasih Eyang Wardoyo. Terimakasih untuk perjalanan hati yang luar biasa pagi ini. (Sayang sekali aku lupa berfoto bersama :( )
 
bersama eyang Iswarjono
Setelah menghela nafas yang cukup panjang, kami beralih ke lansia yang tampaknya sudah lebih tua. Nama beliau adalah Eyang Iswarjono. Umur beliau 82 tahun. Beliau sudah cukup lama tinggal di panti ini, yakni 3 tahun. Lantas ketika kami bertanya apakah dulu ikut berperang, beliau menjawab iya. Lalu, mengalirlah cerita soal perang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia 71 tahun silam. Ketika kami bertanya, apakah beliau dulunya tentara atau bukan, beliau menjawab bukan. Beliau lantas berkata, “Berjuang itukan kewajiban setiap rakyat. Tanggung jawab rakyat, ga hanya tentara saja. Negara ini yang punya siapa coba? Rakyat. Rakyat lah penguasa negara. Sehingga, kamu-kamu yang muda ini, bersuaralah. Kalian ini menjadi perwakilan bagi suara-suara rakyat untuk negara.”  Lalu beliau bercerita kembali. Beliau berkomentar, “Dulu sering sekali terjadi pemberontakan karena setiap orang ingin menegakkan benderanya sendiri-sendiri. Tidak mau akur. Kalau sekarang, kesadaran rakyat Indonesia sudah mulai bagus, meskipun dari Sabang sampai Merauke ada banyak sekali pulau dan berbagai suku bangsa, tapi tetap satu, Indonesia. Kuncinya hanya akur. Kalo rakyat ga akur, maunya menang sendiri-sendiri, gamau bersatu buat bela negara, ya negara akan hancur.”
Lalu, ada sebuah kalimat yang sangat bagus dari beliau.
“Lalu gimana caranya? Ya belajar. Belajar biar bisa baca, biar bisa nulis. Jadilah manusia yang terus merasa bodoh, sehingga terus menerus mau untuk belajar. Nanti kalau sudah sukses, jangan pernah lupa dengan sopan santun. Sopan santun adalah yang paling utama. Doakan semoga eyang selalu sehat, dan eyang doakan semoga kamu-kamu ini bisa sukses dan lancar urusan-urusannya.”
Aamiin.. Terima kasih atas nasihat dan doanya yang luar biasa siang ini, Eyang. Semoga selalu bisa menjadi penyemangat dikala kami lelah untuk belajar.
Kemudian hujan turun, pertanda rahmat Allah menyertai kami semua. aamiin..
Terima kasih Bang Chandra, Mas Hamdan, Mba Devi, dan Rumah Kepemimpinan Regional 3 Yogyakarta. Perjalanan kali ini memang istimewa. Terima kasih untuk tidak pernah lelah mengajarkan kami arti hidup melalui perjalanan-perjalanan tak terduga seperti hari kemarin. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar