my graduation

my graduation

Kamis, 01 Desember 2016

Ketika Teknik dan Sastra Bersatu



Selamat pagi, Pembaca! Hffft, akhirnya setelah sekian lama tidak menulis, di minggu yang rancu antara tenang atau tegang ini aku menyempatkan diri untuk menulis cerita-cerita yang belum sempat kutulis. Aku pernah menjanjikan sebuah cerita romantis antara sepasang insan yang baru saja menikah. Aku lupa, sepertinya sudah berjalan hampir satu bulan. Kisah romantis antara sarjana teknik dan sarjana sastra.
Sebenarnya aku tidak akan menceritakan mengenai mereka berdua sih. Ya secara aku sebetulnya tidak tahu detail cerita pertemuan mereka hingga duduk di kursi pelaminan itu seperti apa. Aku hanya akan menyampaikan nasihat yang disampaikan oleh seorang ustad pada malam akad pernikahan mereka. Satu hal sederhana yang kuingat saat itu adalah pertanyaan ustad tersebut mengenai kriteria pasangan. “Kamu ingin pasangan yang seperti apa? Cantik? Pinter? Pinter masak? Pinter ngurus anak? Kaya? Solehah? Atau mau semuanya?” Kemudian mulailah satu persatu kisah mengenai memilih pasangan diceritakan. Ustad ini sudah berpengalaman sekali dalam urusana hubungan rumah tangga. Banyak orang-orang yang datang kepada beliau untuk minta diberi nasihat hubunganya dengan urusan rumah tangga.
Dari sekian banyak kisah yang diceritakan, intinya hanya satu. Pasangan kita, siapapun itu sekarang atau esok, tidak ada yang sempurna. Kalau dia pintar masak, bisa jadi tidak pintar mengurus anak. Kalau pintar masak dan pintar mengurus anak, bisa jadi tidak cantik atau tidak kaya. Kalau cantik, kaya, pintar masak, pintar ngurus anak, bisa jadi belum solehah. Ada saja kurangnya. Tapi ketika pernikahan yang artinya adalah menyatukan dua insan, maka semua itu bukan lagi soal kurang lebih, hebat tidak, dan segala macam hal yang sifatnya adalah individual. Pernikahan adalah tentang berjuang bersama. Maka, penting untuk pasangan yang baru saja menikah, untuk mengenal satu sama lain lebih jauh. Ustad itu menyarankan untuk memberikan kertas pada pasangan, dan memintanya untuk menuliskan apa saja yang ia suka dan apa saja yang tidak ia suka. Dengan begitu, satu sama lain akan saling memahami dan berusaha untuk menghargai satu sama lain.
Ada sebuah cerita. Suatu hari ada seorang laki-laki yang datang kepada ustad tersebut, meminta dicarikan pasangan. Ketika ditanya, “Kamu maunya yang seperti apa?” Ia menjawab, “Yang bila aku memandang wajahnya, maka sejuklah hatiku, yang bila anak-anakku berada pada tanggung jawabnya, damailah jiwaku, yang bila kuajak bicara dengannya, tentramlah pikiranku, yang kehadirannya di rumahku membawa kebahagiaan dalam hidupku.” Lantas, ustad tersebut menjawab, “Saya sudah menemukan orangnya, mas.” Kemudian laki-laki tersebut berbinar-binar dan bertanya lagi, “Siapa Pak Ustad?” kemudian ustad itu menjawab, “Bidadari surga.” Laki-laki itupun terdiam. Kemudian ustad tersebut menlajutkan, “Tidak ada mas. Tidak ada di dunia ini perempuan yang sempurnanya seperti itu. Pasti ada kurangnya. Jadi kalau mas mau cari perempuan seperti yang telah disebutkan tadi, cari saja di surga.” Aku senyam-senyum saja menyimak nasihat tersebut. Untuk remaja yang masih sedikit alay sepertiku, terkadang membayangkan ingin punya pasangan yang serba bisa. Yang gantenglah, kayalah, pinterlah, dan seabrek hal-hal bagus lainnya. Padahal betul saja kata ustad tadi, tidak akan pernah ada pasangan yang sempurna. Dari sini kemudian ustadnya menyambung perihal perceraian. Bagi pasangan yang sudah saling mengerti dan memahami satu sama lain, mestinya perceraian dapat dihindarkan. Apalagi hanya karena masalah-masalah yang sepele. Ustad tersebut berpesan, ketika mulai terjadi sesuatu yang tidak beres dalam rumah tangga, cobalah untuk bicara berdua kemudian mengingat-ingat, apa alasan dulu memutuskan untuk bersatu. Tanamkan bahwa di dunia ini tidak ada yang kebetulan. Allah telah merancang skenario setiap kehidupan seseorang dengan sangat indah. Cobalah bertanya pada diri sendiri, “Diantara jutaan perempuan lain, kenapa yang akhirnya menjadi pasanganku adalah kamu? Kenapa pula harus bertemu di tempat itu? Dan kenapa harus pada jam itu?” pertanyaan itulah yang kemudian akan membuat kita ingat pada masa awal-awal bertemu dan akhirnya memutuskan untuk menikah. Kita akan ingat bahwa ternyata sudah banyak sekali kisah yang telah dilukiskan bersama, telah banyak sekali rasa sakit yang berhasil dilewati hasil dari berjuang bersama.

Kalau menurutku, pernikahan memang tentang berjuang bersama. Berjuang untuk apa? Berjuang untuk menjadi lebih baik. Jadi kalau ditanya mau pasangan yang seperti apa, yang terpenting buatku adalah yang mau berjuang bersamaku menjadi pribadi yang lebih baik setiap hari.
Mungkin aku memang bukan yang terbaik. Tapi aku yang tidak akan pernah lelah berjuang untuk terus membaik bersamamu*uhuk

Btw pasangan yang kuceritakan ini laki-lakinya lulusan teknik, dan perempuannya lulusan sastra lho. Trus kenapa? #eaaa

7 komentar:

  1. Berarti calonnya Rosyda besok maunya orang Teknik ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi kalau ditanya mau pasangan yang seperti apa, yang terpenting buatku adalah yang mau berjuang bersamaku menjadi pribadi yang lebih baik setiap hari.

      itu poinnya pentingnya sebenernya, Fa ^^'
      bukan teknik enggaknya ^^'

      Hapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. UHUK. Anaknya baca sambil makan sosin ya, eh sosis :p

    BalasHapus
  4. Habis ini asrama rame grgr postingan kak ros.--.

    BalasHapus