my graduation

my graduation

Jumat, 23 Desember 2016

Catatan Rumah Kepemimpinan 11 : Saya Sih Alphard, Kamu?


Selamat siang, Pembaca. Luar biasa sekali ternyata hikmah di balik tidak liburnya Rumah Kepemimpinan, aku bisa jadi lebih produktif menulis. Haha. Terima kasih RK!
Siang ini aku menyempatkan diri untuk pergi ke temapt favortiku untuk menulis. Mana lagi kalau bukan Cokelat Klasik. Sebetulnya alasannya sederhana saja sih. Aku suka sekali minuman coklat dan di sini harganya murah. Hahaha. Tempatnya juga lumayan oke. Setidaknya aku bisa menyelesaikan banyak tugas dan beberapa tulisan serta melahap sekian buku kalau sudah duduk di tempat ini. Dan kali ini, aku sedang bersemangat sekali untuk menulis tentang apa yang baru saja tadi malam kudapatkan di Rumah Kepemimpinan.
Awalnya, nama kegiatannya adalah basic skill : desain. Sepintas membayangkan, pasti belajar mengenai aplikasi yang bisa digunakan untuk membuat desain, bagaimana menggunakan tools-toolsnya, dan sebagainya. Tapi, lagi-lagi Allah Maha Tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya.
Pembicara yang hadir tadi malam adalah Mas Nanang Syaifurrozi. Beliau adalah CEO dari Rumah Warna. Pertama kali datang tampangnya biasa sekali. Sederhana. Tapi begitu bicara, hmm mengundang tepuk tangan yang membahana. Sebelum kutuliskan mengenai materi yang disampaikan, akan kuceritakan dulu perihal Rumah Warna. Rumah Warna berdiri sejak tahun 2002. Mas Nanang merintis usaha tersebut bersama istrinya. Pada saat itu padahal Mas Nanang belum lulus kuliah. Namun ada hal yang kemudian beliau bertekad kuat untuk berbinis. Apa itu? Nanti dulu. Oiya, perlu diketahui, Mas Nanang ini alumni UGM begitu juga istrinya*eaaa.
Hingga kini, sudah ada sekitar 80 cabang Rumah Warna di Indonesia. Hebatnya lagi, Rumah Warna bisa menjual kurang lebih 35.000 pcs setiap bulannya. Fantastis sekali. Lantas kami bertanya-tanya, bagaimana bisa sehebat itu.
Mas Nanang menjelaskan, semua itu adalah bagian dari proses. Mas Nanang mengawali bisnisnya dengan berjualan di sunmor (sunday morning). Dulu awalnya sunmor berada di GSP (Grha Sabha Pramana). Pada saat itu pun, rata-rata pedagang menjual makanan. Mas Nanang inilah yang menjadi salah satu pelopor penjual non-makanan. Ketika ditanya apa motivasinya, Mas Nanang menjawab dengan santai, “Ya kan, sore-sore jualan sambil duduk berdua sama istri asik tuh.” Lantas kami tertawa. Kemudian, dengan usaha disertai doa yang kuat, dalam setahun Mas Nanang sudah mempunyai penghasilan yang lumayan, sampai bisa membeli mobil. Tahun berikutnya, Rumah Warna semakin berkembang. Rumah Warna mulai membuka stand di berbagai mall. Hingga pada tahun 2013, Rumah Warna mampu menyewa Cherry Belle, yang harga sewanya satu tahun mecapai 300 juta. Weew.
Sebetulnya, aku tidak terlalu bisa menceritakan banyak perihal Rumah Warna. Intinya keren banget!
Lalu apa yang akan kutuliskan? Tentu pesan-pesan luar biasanya. Meskipun secara keseluruhan memang bicara soal bisnis, tetapi nasihat-nasihat yang disampaikan mas Nanang tidak hanya bisa di aplikasikan dalam bisnis saja, tetapi juga untuk kehidupan sehari-hari.
Nasihat pertama, jadilah manusia yang kreatif. Jadilah manusia yang berbeda. Mengapa? Ya karena dengan perbedaan itulah nantinya kita akan mendapat perhatian lebih dari orang lain. Sama seperti Rumah warna, pada masa itu, orang-orang masih enggan dengan barang-barang yang berwarna mencolok. Tetapi, Rumah warna justru memproduksi tas yang colourfull. Warnanya cetar-cetar. Memang kemudian orang akan bertanya, Apaan sih kok warna warni gitu? Tapi pertanyaan itulah yang sebenarnya merupakan bentuk dari perhatian orang terhadap produk kita.
Nasihat kedua, jangan terlalu menjadi pemilih. Cukup menyedihkan dengan data yang diperlihatkan oleh Mas Nanang kemarin bahwa pengangguran di Jogja kebanyakan adalah lulusan sarjana. Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah, kenapa justru sarjana? Jawabannya adalah karena mereka terlalu pemilih, terlalu idealis. Misal, yang lulusan geografi tidak mau kerja kalau bukan yang sesuai dengan bidangnya, yang jurusan lain-lainnya pun begitu. Jadinya ya, sulit.
Nasihat ketiga, fokus. Kebanyakan orang Indonesia adalah tidak fokus. Hidup itu pilihan. Kalau ditanya mau jadi pegawai atau pengusaha, ya pilih saja salah satu. Jangan memilih pengusaha, tapi ketika kemudian usahanya turun, ditinggal begitu saja dan melamar menjadi pegawai, atau sebaliknya. Baik pegawai maupun pengusaha, keduanya memiliki risiko dan konsekuensinya masing-masing. So, mau jadi pegawai, profesional, atau entrepreneur, tentukan dari sekarang dan expertlah di salah satu bidang saja.
Nasihat keempat, milikilah mental entrepreneur. Seperti apa sih mental entrepreneur? Mental entrepreneur itu, kalau kita profesinya adalah guru, maka pikiran kita adalah soal membangun sekolah. Kalau profesi kita dokter, pikiran kita adalah soal membangun rumah sakit, dan sebagainya. Kalau seperti ini, kebaikannya berlipat-lipat ketimbang sekedar menjadi guru atau dokter saja. Dengan membangun sekolah, kita bisa lebih banyak membuka peluang kerja untuk orang lain, lebih banyak memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk bersekolah. Sama halnya dengan membangun rumah sakit. Kalau menjadi pejabat negara pun, harus memiliki mental entrepreneur. Bukan berarti menjual belikan jabatan lho ya. Tapi dengan mental entrepreneur itu, kita tidak akan sempat punya pikiran untuk mengorupsi uang negara, bukan?
Mas Nanang pun sekarang memberdayakan UKM yang berada di Jogja sebagai tempat produksi bagi Rumah Warna. Nah kan, membuka peluang kerja banyak sekali untuk orang lain.
Nasihat kelima, milikilah habbit yang berbeda dengan orang lain. Tentunya habbit yang baik ya. Mas Nanang bercerita, dulu semasa kuliah, saat teman-temannya yang lain bermain dan beristirahat, yang dilakukan Mas Nanang adalah menjahit. “Kalo habbit kamu masih sama kayak kebanyakan orang, ya kamu ntar jadinya sama kayak kebanyakan orang.” Ujar Mas Nanang.
Nasihat keenam, berani bermimpi besar. “Kalau kamu mimpinya setinggi langit, kalo jatuh masih dapet eternit. Tapi kalo mimpinya cuma setinggi eternit, kalo jatuh dapetnya cuma jinjit. Allah itu sesuai dengan apa yang kita usahakan. Allah memberi sesuai dengan tingkat kepantasan kita. Kalo emang pantes dapet rezeki gede ya dikasih gede. Tinggal gimana cara kita memantaskan diri aja.”
Sebelum lanjut ke nasihat berikutnya, ada sebuah rumus perubahan yang Mas Nanang ajarkan.
Be+Do= Have
Mana yang paling penting dari ketiga komponen di atas? Have. Ya, Have dapat diibaratkan sebagai mimpi atau alasan. Kalau kita sudah punya alasan, maka tidak sulit lagi untuk Be dan Do. “Misalkan, bangun pagi. Kalau kamu diberitahu besok akan ada uang 5 juta di depan pintu kamarmu saat subuh, akankah besok kamu akan dengan mudah bangun pagi? Jelas. Karena ada alasannya. Nah, alasan itulah yang harus kita temukan kenapa kemudian kita melakukan perubahan. Kalo saya dulu have nya adalah bisa membahagiakan orang tua dan ga merepotkan mereka. Sesederhana itu.” Terang Mas Nanang. Kemudian beliau melanjutkan, “Perubahan memang selalu bikin ga nyaman, ada aja cobaannya. Tapi kalau ga dilakoni, ya ga berubah-berubah.”
Nasihat ketujuh, kalau mau berbisnis, jangan hanya asal ikut-ikutan. Karena pasti rentan sekali jatuh. Dalam bisnis, kita sangat dituntut untuk melakukan inovasi. Apalagi kalau bisnis kita sudah bagus dan mulai diikuti oleh banyak orang. Jangan sombong ketika sudah berada di puncak. Kita harus tetap senantiasa melakukan pembaharuan.
Nah, bagian terakhir inilah yang paling menarik. Nasihat terakhir, tapi sebetulnya merupakan nasihat yang paling penting.
Ada tiga faktor keberuntungan, yakni positive thinking, positive feeling, dan positive motivation. Kita harus bisa menjadi manusia yang senantiasa berfikir positif, apapun yang terjadi dengan hidup kita. Orang yang bermental entrepreneur, segalanya akan tampak positif. Segalanya akan dimaknai sebagai rezeki. Mas Nanang menganalogikan rezeki adalah ibarat sebuah permen. Permen pasti ada bungkusnya, bukan? Coba pikirkan, kalau kita diberi sebuah permen yang tidak ada bungkusnya, sudah terbuka dan lengket-lengket begitu, maukah kita menerimanya? Tentu tidak. Kita pasti maunya permen yang masih terbungkus rapi. Padahal, toh ujung-ujungnya bungkusnya juga dibuang dan kita hanya akan makan permennya saja, bukan begitu? Sama seperti rezeki. Allah mengemasnya terlebih dahulu sebelum kita nikmati. Entah itu dengan musibah, ujian, cobaan, atau yang lain. Jadi kalau sedang mendapat musibah, positive thinking saja setelah ini akan mendapat rezeki. “Respon itu dinilai satu detik setelah kita mendapatkan sesuatu. Misal kecopetan, lalu kita langsung mengumpat dan marah-marah, baru beberapa hari kemudian mengatakan bahwa kita ikhlas, itu tidak ada artinya. Maka, belajarlah untuk senantiasa menyikapi segala sesuatu dengan rasa syukur dan berfikir positif.”
Ah, luar biasa sekali Mas Nanang. Sedikit banyak mirip dengan pemikiranku selama ini. Bedanya, aku meyakini bahwa di balik setiap kejadian akan ada hikmah dan pelajaran yang berharga, apapun itu. Seperti misalnya kemarin saat aku hendak pergi ke maskam UGM, tapi ternyata jalannya ditutup karena ada acara niti laku, hingga akhirnya aku memutuskan untuk ke maskam UNY saja, eh, aku bertemu dengan Fathia, salah satu teman FLP ku. Hmm, tidak menyangka bukan? Kalau jalan menuju maskam UGM tidak ditutup dan aku tidak ke maskam UNY, mana mungkin aku bertemu dengan Fathia? Hal-hal kecil seperti itu saja sudah diatur sedemikan rupanya oleh Allah. Tinggal kitanya saja, peka atau tidak.
Sebagai penutup, ada cerita dari Mas Nanang yang masya Allah sekali. Jadi, Mas Nanang mempunyai tanah yang hendak dijual. Harganya 7 M, tetapi Mas Nanang mematok harga 5,5 M saja sudah oke. Sudah cukup lama, tapi belum ada yang membeli. Hingga suatu saat, ibu Mas Nanang jatuh sakit. Tanpa pikir panjang, Mas Nanang langsung membawa ibunya ke Jogja dan menemani beliau selama kurang lebih 2 minggu di rumah sakit. Selama 2 minggu itu, Mas Nanang tidak ambil pusing soal kerjaan sedikitpun. Mas Nanang fokus birrul walidain menjaga ibunya yang sakit. Saat di rumah sakit, ibu Mas Nanang sempat mengutarakan keinginannya untuk umroh bersama adik dan kakaknya yang total berjumlah 9 orang. Tanpa berfikir lama, Mas Nanang mengiyakan saja, padahal saat itu belum tahu juga mau dapat uang darimana, tanah saja belum laku-laku. Katanya, “Baik, Bu. Februari nanti berangkat.”
Setelah kurang lebih 2 minggu, ibu Mas Nanang sembuh. Keajaiban itu terjadi. Seseorang yang kemarin-kemarin hanya mampir ke toko dan menawar ini itu, tiba-tiba datang dan menyatakan bahwa ia hendak membeli tanah Mas Nanang dengan harga 6,2 M. Tanpa pikir panjang, Mas Nanang setuju dan malamnya, transaksi tersebut sudah lunas. Masya Allah..
Jadi bagaimana? Masih tidak percaya dengan kekuatan berfikir positif?
Ketika hendak pulang pun kami ribut membicarakan soal mobil Mas Nanang yang ternyata bermerek Alphard. Mobil sehari-harinya saja Alphard loh. Wkwk. 

Saya sih Alphard, kalau kamu?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar