my graduation

my graduation

Sabtu, 22 Oktober 2016

Catatan Rumah Kepemimpinan 6 : 2 Cerita Unik

Foto oleh : Resa Paksi

Selamat senja, Pembaca (: Kali ini aku mau berbagi sedikit mengenai cerita salah satu ustad yang mengisi kajian di Rumah Kepemimpinan beberapa waktu yang lalu. Tentu bukan cerita biasa, melainkan cerita yang kuanggap unik dan layak untuk dibagikan.

CERITA I
Cerita pertama, mengenai seorang dosen. Oh iya, aku lupa mengenalkan ya. Ustad yang mengisi kajian di Rumah Kepemimpinan beberapa hari lalu itu, bernama Ustad Deden. Jadi dulu saat masih kuliah, Ustad Deden pernah diajar oleh seorang dosen yang sangat disiplin. Hal itu membuat sebagian mahasiswa akhirnya menjadi kurang senang, melihat dosen tersebut juga sering sekali memberi tugas. Namun, ada sisi lain dari dosen tersebut yang tidak semua orang tahu. Ustad Deden bercerita, bahwa dosen beliau yang sangat disiplin tersebut jarang sekali datang ke kampus lebih dari pukul 06.30. Dosen beliau ini selalu datang pukul 06.00. Karena dosen tersebut memiliki kunci serep kantor maka beliau  bisa masuk kapan saja, tanpa perlu menunggu petugas. Tak hanya itu, begitu sampai di kantor, dosen tersebut segera menyapu ruangannya sendiri, jauh sebelum cleaning service yang membersihkannya. Setelah itu, beliau melaksanakan sholat dhuha. Waah, luar biasa sekali ya…

Lalu setelah melaksanakan sholat dhuha, dosen tersebut pasti memanggil salah satu mahasiswanya yang sudah datang untuk berdiskusi dengan beliau. Beliau akan mengeluarkan setumpuk buku, kemudian meminta salah satu mehasiswanya yang dipanggilnya tadi untuk membaca satu buku saja dari banyaknya tumpukan buku yang telah beliau keluarkan tadi. Jika sudah selasai dibaca, maka tugas selanjutnya adalah mahasiswa tersebut harus menjelaskan hasil dari apa yang telah dibacanya pada pekan depan. Luar biasa sekali bukan? Ah, tapi itu belum seberapa.

Suatu kali, Ustad Deden melihat dosen tersebut sedang memilah-milah buku anak di sebuah pameran. Namun, Ustad Deden hanya diam dan terus berfikir, untuk siapa buku-buku itu? Hingga pada keesokan harinya, ustad Deden dipanggil oleh dosen tersebut. Alangkah terkejutnya Ustad Deden ketika mendapati begitu banyak buku anak-anak  dalam dua kardus besar di ruangan dosen tersebut. Lalu tanpa basa-basi, dosen tersebut langsung memerintahkan Ustad Deden untuk memberikan kedua dus berisi buku itu ke dua SD di sebuah daerah. Setelah memberikan perintah, dosen tersebut berpesan, “Jangan katakan dari siapa buku-buku ini.” Masya Allah…

Seketika itu aku pun terhenyak. Seringkali kita menilai seseorang dari apa yang terlihat di luarnya saja. Kita tidak pernah tau bahwa ada banyak hal dari orang lain yang kita tidak tahu… Sehingga pesan ustad Deden adalah, marilah kita mencoba untuk bisa selalu melihat sesuatu dari berbagai sudut pandang. Tidak hanya dari satu sisi saja. Jangan serta merta tidak menyukai dosen hanya karena beliau galak, pelit nilai atau sering memberi tugas. Tapi, cobalah untuk melihat dosen tersebut dari sisi yang lain. Bisa jadi kita akan menemukan hal-hal menakjubkan yang sebelumnya kita tidak pernah tahu.

CERITA II
Cerita kedua, masih seputar kehidupan Ustad Deden, yakni ketika beliau menjadi santri. Beliau menceritakan, dulu saat masih menjadi santri, ada seorang Ustadz yang memiliki cara unik dalam memberikan pelajaran kepada santri-santrinya. Ustadz tersebut merupakan ustadz yang mengampu tahfidz. Jadi, setiap santri menyetorkan hafalan mereka kepada beliau. Jangan dibayangkan menyetorkan hafalan itu mudah. Karena ketika menyetorkan hafalan, tapi kemudian mereka terlupa satu ayat atau bahkan salah harokat saja, lutut mereka akan ditusuk dengan ujung pulpen oleh Ustadz tersebut. Sehingga tidaka ada ceritanya orang yang sudah menyetorkan hafalan kepada ustadz tersebut, memiliki kualitas hafalan yang buruk. Karena mereka tidak akan berani menyetorkan hafalan mereka sebelum benar-benar lancar dan betul. Mereka benar-benar mempersiapkan segalanya dengan baik. Karena jika tidak, maka bisa dipastikan lutut mereka akan sakit dan menjadi hitam karena banyaknya tusukan pulpen yang diberikan oleh sang ustadz. Unik sekali ya? Dengan begitu para penyetor memang akan sungguh-sungguh hafalan, bukan yang asal setor tetapi besoknya langsung lupa.

Sejujurnya ini menjadi tamparan keras buatku. Karena dulu semasa menghafal di pondok, aku tipe santri yang cepat sekali menghafal, tapi cepat juga lupanya. Dampaknya, saat kuliah ini beberapa hafalanku hilang—hampir tak berbekas. Aku hanya familiar ayatnya saja ketika ada yang membaca atau mendengar ayat tersebut. Tapi sudah tidak bisa ketika diminta untuk melanjutkan. Sedih sekali sebetulnya. Semoga bisa dijadikan pelajaran untuk setiap penghafal Al-Qur’an, aamiin.. Sepertinya metode tusukan pulpen tadi juga bisa kuterapkan saat hafalan dan muroja’ah untuk ke depannya. Harus tega memang kalau benar-benar ingin mempunyai kualitas hafalan yang bagus. Semoga istiqomah, aamiiin..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar