my graduation

my graduation

Minggu, 02 Oktober 2016

Catatan Rumah Kepemimpinan 5 : Aku Bisa Menulis (Lagi)

2 Oktober 2016

Selamat sore, Pembaca. Luar biasa sekali di sore yang lumayan dingin ini gairah menulisku muncul kembali, setelah sekian lamanya tidak pernah menulis.

Semua ini bermula dari sebuah buku. Terima kasih, Allah. Karena lagi-lagi menggerakkan tanganku untuk mengambil buku tersebut dan membelinya. Jadi sekitar pukul sebelas tadi, aku mampir ke toko buku Social Agency terlebih dahulu sebelum berangkat ke kampus. Niat awalnya adalah membeli buku untuk tugas resensi mata kuliah Teknik Penulisan Ilmiah. Begitu masuk toko buku tersebut, aku segera menuju rak dengan tulisan buku terbaru. Mengapa? Karena syarat untuk buku yang boleh diresensi adalah buku terbitan tahun 2016. Akhirnya aku menemukan satu buku yang sepertinya cukup bagus, judulnya Ya Rabb, Beri Aku Kesempatan Lagi. Namun karena masih sedikit ragu, akhirnya aku mencoba untuk berkeliling melihat buku yang lain. Sampai akhirnya, aku bertanya pada salah satu karyawan, benar tidak buku yang sudah kupilih tersebut terbitan tahun 2016. Lalu kata karyawan tersebut, belum tentu. Karena kode yang terdapat dibukunya adalah 2216. Jadi, kemungkinan buku itu terbitan tahun 2015 atau 2016. Kalau yang sudah pasti terbitan tahun 2016, maka kodenya adalah 2217. Ooh begitu rupanya, batinku. Akupun mencoba mencari buku lain dengan kode 2217. Akhirnya, entah mengapa mataku langsung tertarik dengan buku berjudul “Hidup Indah Bersama Allah”, dan tanpa pikir panjang, langsung kuambil dan kubayar di kasir. Begitulah awal mula ceritanya aku membeli buku tersebut. Buku yang membuatku bergetar berkali-kali saat membacanya. Buku yang membuatku (bisa) menulis lagi sore ini.

Tidak jauh beda dengan kebanyakan buku motivasi lainnya, buku ini terdiri dari banyak sub bab judul yang membahas mengenai suatu persoalan. Dan sub bab yang paling menggetarkan adalah sub bab, IKHLAS. Kubaca satu demi satu tiap-tiap kalimatnya. Seketika ingatanku melayang pada kejadian beberapa hari yang lalu, saat dimana aku lebih dari sekadar benci dengan diriku sendiri. Saat aku bertanya pada temanku tentang sebuah materi, tetapi ia justru menjawabnya dengan kalimat yang sangat menyakitkan, “Rosyda sih tidur terus.” Seketika, saat itupun aku diam. Kemudian sepanjang hari aku merenung. Bicara pada diriku selama perjalanan dari kampus menuju asrama yang jaraknya kurang lebih 7 kilometer. Berpuluh-puluh pertanyaan kuajukan pada langit, pada alam, pada diriku sendiri.

“Apa yang salah dengan Rosyda? Lihat sekarang. Hampir semua teman berkomentar hal yang sama. Rosyda sekarang ngantukan, deadliner, kucel kalo ke kampus, lemes ga semangat, wajahnya kayak sakit, ga ceria.”
“Apa yang salah dengan Rosyda? UTS Batik tidak bisa menjawab dengan maksimal, muroja’ah sehabis maghrib tidak pernah jalan, tugas menumpuk sampai keteteran, proyek penelitian tidak gerak cepat, tidak pernah menulis blog lagi, tidak pernah mengedit, tidak pernah membuat tulisan baru, ada apa?”
“Apa yang salah dengan Rosyda? Kurang penyesuaian kah dengan barisan para pemimpin ini? Tapi ini sudah bulan kedua!?
“Apa yang salah dengan Rosyda? Atau mungkin bukan aku yang salah? Mungkin RK? Apa RK yang salah? Jadwal yang begitu padat belum lagi kuliah dan organisasi, seperti tidak ada waktu istirahat sedikitpun. Tapi buktinya banyak temanmu yang tetap bisa menjalani hidupnya dengan baik. Beberapa malah sudah ke luar negri dan menorehkan prestasi yang luar biasa. Sedangkan aku? Sekedar menghasilkan atau mengedit satu tulisan setiap hari saja tidak sempat. Jelas ini bukan salah RK. Tapi salahku sendiri. Dan kalian tahu? Aku benci. Aku benci dengan diriku yang seperti itu. Dan ketika temanku menjawab pertanyaanku dengan kalimat menohok tadi, seketika aku menjadi lebih dari sekadar benci dengan diriku sendiri.

Lalu siang tadi ketika aku membaca buku Hidup Indah Bersama Allah, aku menemukan jawabannya. Aku menemukan jawaban atas semua pertanyaanku sore itu.

Aku selama ini belum ikhlas. Aku belum ikhlas dibina dan ditempa di Rumah Kepemimpinan. Sehingga yang terjadi adalah aku mudah lelah, aku mudah kecewa. Aku belum ikhlas dengan acara malam yang selalu berlangsung dari pukul 20.00 hingga 22.00. Padahal selama ini, itu adalah waktuku yang paling efektif untuk menulis dan belajar. Aku kecewa, ketika acara pagi terkadang berakhir lebih dari pukul 06.30, padahal setelah pukul 06.30 jalanan akan sangat ramai dan macet, membuat semangatku menguap diantara hiruk pikuk kendaraan pagi hari. Aku belum ikhlas, Allah. Sungguh ternyata selama ini aku belum ikhlas. Dalam buku tersebut disebutkan, “Mengapa kita lemah, lelah, stress, dan frustasi dalam kehidupan ini? Mungkin karena kita belum ikhlas. Karena kata menyerah, lelah, kalah, putus asa, dan frustasi tidak pernah ada dalam kamus orang ikhlas.”

Aku selama ini belum ikhlas. Aku masih takut dengan supervisor, aku masih takut dengan Bang Bach, aku masih takut dengan segala system di RK. Ketaatanku bukan semata-mata karena Allah, tapi karena aku takut dengan mereka. Sungguh selama ini aku belum ikhlas.

Namun aku bersyukur. Allah tidak pernah lelah mengingatkanku. Di awal Bulan Oktober ini, di saat besok Senin adalah minggu UTS yang sebenarnya, Allah menggerakkan tanganku untuk membeli buku penuh hikmah ini. Mengizinkanku untuk kembali menulis. Mengabulkan doaku beberapa hari lalu tentang kesempatan memperbaiki semuanya dari awal.

Karenanya, aku akan belajar untuk menjadi lebih ikhlas. Kata banyak orang, yang namanya ikhlas memang tidak mudah. Tapi bukan berarti kita tidak bisa senantiasa berusaha untuk ikhlas, bukan? Semoga kisah kali ini bisa menjadi pelajaran bagi banyak orang, terlebih bagiku sendiri. Semoga ke depan segalanya bisa menjadi lebih baik, dan aku bisa menjadi pribadi yang lebih kuat, lebih ikhlas. Awali Bulan Oktober ini dengan semangat perubahan, Rosyda. Ikhlaskan semuanya hanya karena Allah, hanya untuk Allah. Karena yang tidak akan kamu temukan di Rumah Kepemimpinan adalah, istirahat.

3 komentar:

  1. Suka endingnya Ros. Terus berkarya yaak.

    Btw, blogku pindahan www.pandurijal.com. Mampir-mampir ya Ros. Tapi mungkin saya cuma bisa menjamu teh hangat, semoga berkenan :D

    BalasHapus
  2. Pesannya yg di bold sangat menarik, noted.

    BalasHapus
  3. Pesannya yg di bold sangat menarik, noted.

    BalasHapus