my graduation

my graduation

Senin, 08 Agustus 2016

Semangkuk Nasi Kecap


Malam itu, aku akan pulang. Keramaian stasiun Pasar Senen tak menghalangiku untuk pergi berkeliling untuk sekedar mencari makan malam. Bersama Fadhil, aku berjalan-jalan sampai terlihat seperti orang konyol karena bolak-balik dan mengomel tidak jelas. Tapi, Allah lagi-lagi menegurku malam itu. Dalam balutan hujan yang hanya sekian menit, pelajaran Allah tersampaikan.

Aku cukup sulit untuk membeli makanan di tempat umum. Aku seringkali takut membeli makanan yang berbau atau sekedar mengandung daging. Apakah itu ayam, atau soto ayam, aku tetap tak yakin. Akhirnya daripada ragu, aku memutuskan untuk mencari makanan yang tidak mengandung daging sama sekali. Kami—aku dan Fadhil berjalan ke sana kemari mencoba mencari makanan yang cocok. Sebetulnya, Fadhil memang tak berniat makan nasi malam itu. Dia ingin makan roti. Yah, tapi karena di baik hati dan tidak sombong, dia dengan sabarnya menemaniku mencari makan*eaaa

Sampai akhirnya, aku melihat ada tahu dan tempe di tempat seorang Ibu yang di gerobaknya bertuliskan lele. Oh, rupanya tidak hanya jual lele saja. Buktinya, ada tahu dan tempe. Karena seketika aku yakin, akhirnya aku memutuskan untuk berhenti dan memesan makanan untuk dibungkus.

Tak lama setelah aku memesan, hujan turun perlahan. Dan pelajaran kehidupan itu tersampaikan.
Ibu yang berjualan itu, memiliki anak. Laki-laki. Umurnya sekitar 4-5 tahun. Aku kurang tahu apa yang dilakukan anak itu di sana, tetapi ada saat dimana ia mondar-mandir dan seketika ibunya langsung menjewer dan memarahinya. Aku dan Fadhil sama-sama melihat keadaan itu. Hingga akhirnya Fadhil berkomentar bahwa beberapa anak  yang ia lihat selama kami berjalan mencari makan tadi, juga begitu. Dididik dengan kekerasan. Lalu aku tersadar. Oh, Allah. Ini sudah malam. Sudah pukul 9 lebih. Anak-anak seumurannya seharusnya sudah tidur lelap saat ini. Menikmati hangatnya kamar dan empuknya kasur busa. Tapi ia? Masih di sini, di pinggir jalan, dalam kondisi hujan dan gelap serta keramaian yang tiada habisnya.

Kemudian, anak tersebut mengambil mangkok. Diisinya dengan nasi sedikit demi sedikit. Mataku berkaca-kaca. Apa yang akan ia lakukan? Awalnya kukira ia hendak mengambilkan nasi untukku. Ah, ternyata ia hendak makan. Selesai mengambil nasi, ia meminta kecap pada ibunya. Seperti anak kecil pada umumnya, ia cerewet sekali ketika meminta kecap. Dan, ya, lagi-lagi ibunya membentaknya.  Setelah itu, ia duduk dan mulai memakan semangkuk nasi kecap tersebut. Aku menatapnya lekat-lekat. Kuelus kepalanya sambil tersenyum dan bertanya, “ga pake lauk?” dan anak itu hanya malu-malu menggeleng atas pertanyaanku. Oh, Allah. Terima kasih sudah menegurku lagi. Aku dan anak itu sama-sama kelaparan malam ini. Tapi aku sungguh tanpa malu mengeluh ini itu karena lelah, pusing, mengantuk, serta tak kunjung menemukan makanan yang pas. Sedangkan anak itu? Ia masih harus terbangun di malam yang dibalut hujan. Masih harus menyaksikan keramaian dan lalu lalang orang-orang di sekitarnya. Masih harus mengenyahkan rasa lapar hanya dengan semangkuk nasi kecap.

Sungguh lagi-lagi aku diajarkan tentang larangan mengeluh. Ya, aku tau aku lelah. NLC yang berlangsung selama seminggu cukup membuat sekujur badanku pegal-pegal. Perjalanan menuju stasiun malam itu juga cukup membuatku lebih banyak diam karena lapar dan lelah. Tapi, anak itu menjadi perantara pelajaran kehidupan yang Allah sampaikan padaku. Bahwa masih banyak orang-orang yang kondisinya jauh lebih sulit. Jauh lebih tidak enak. Sehingga, tidak semestinya aku mengeluh ini-itu.

Sembari menunggu pesananku, aku berkata dalam hati, Dek. Aku yakin, kelak kamu akan menjadi orang besar. Percayalah. Kemudian aku mengelus sekali lagi kepalanya sebelum aku benar-benar pergi dari sana. Dan, hujanpun berhenti. Menyisakan pelajaran kehidupan yang singkat diantara deru keramaian stasiun Pasar Senen malam hari.

Jakarta, 7 Agustus 2016

2 komentar:

  1. Hiks hiks.. Mengena

    BalasHapus
  2. Cerita kisah inspirasi di pondok dong

    BalasHapus