my graduation

my graduation

Selasa, 09 Agustus 2016

Catatan Rumah Kepemimpinan Spesial NLC 2016 (Part 1) : Hujan dan UI Menjadi Saksi

Sumber : Muthia
Semangat pagi, Pembaca :D
Karena kemaren sudah diawali dengan kisah semangkuk nasi kecap, sekarang saatnya berbagi keseruan selama NLC 2016 :D

Cerita ini nantinya akan sangat panjang. Karena agenda NLC 2016 ini terselenggara selama seminggu, dari pagi-sore dengan berbagai macam kegiatan yang tidak ada hentinya. Jadi, bisa bayangkan akan sepanjang apa cerita ini nanti? Simak saja lah. Haha

Sore hari Senin 1 Agustus 2016, Kami—aku dan teman-teman regional 3 Yogyakarta bersiap untuk berangkat ke Jakarta. Kami berkumpul di asrama Srikandi dan menyimak nesehat eyang sebelum benar-benar meninggalkan kota Istimewa ini. Tepat pukul 5 sore, akhirnya kami berangkat.
Aku tidak akan terlalu detail menceritakan setiap detik yang kami lewati. Hanya beberapa poin yang kurasa waw dan perlu untuk kuceritakan. Dan pada bagian 1 ini aku akan menceritakan tentang bagaimana hujan dan UI menjadi saksi atas hangatnya persaudaraan Nakula dan Srikandi.

Siang itu, kami berencana untuk mengadakan latihan Haflah (semacam pentas seni) sekali lagi, sebelum kami semua benar-benar disibukkan dengan agenda NLC yang begitu padat. Akhirnya, tepat setelah sholat ashar, kami berangkat bersama-sama menuju Universitas Indonesia untuk melaksanakan latihan haflah. Ada beberapa kendala selama perjalanan. Ya, kami tidak hafal jalan dan lokasi-lokasi fakultas yang ada di UI. Jadi kami sempat nyasar dan bolak-balik saat akan menuju tempat latihan kami, yakni taman Firdaus. Karena kejadian nyasar itulah, akhirnya kami baru bisa melaksanakan latihan pukul setengah 5 sore. Padahal, setelah maghrib kami sudah harus berkumpul di asrama kembali, guna mengikuti pembukaan NLC 2016.

sumber : Ridha
Oh ya, sebelum latihan, kami makan roti terlebih dahulu. Aku kurang tau roti itu dari siapa, yang jelas kami semua pada akhirnya justru tampak seperti orang-orang yang akan bertamasya. Duduk santai di atas rumput sambil makan roti. Aku mengamati wajah teman-temanku satu persatu. Bahagia sekali ya? Tanyaku dalam hati. Semoga hingga 22 bulan ke depan kami masih bisa terus seperti ini.
Setelah kenyang,kami bersiap untuk latihan. Saling membantu satu sama lain mulai dari memberi komentar dan masukan untuk para pemain, sampai membuat tulisan RK 8 diatas kain backdrop. Hingga tak terasa, tiba-tiba langit mendung. Dan rintik hujanpun turun satu-satu.

Mau tidak mau, akhirnya kami memutuskan untuk pulang. Dengan sedikit berlari, kami berdoa semoga hujannya tidak turun terlalu deras. Tapi Allah berkehendak lain. Beberapa meter sebelum tiba di halte bus, hujan turun begitu deras. Aku dengan susah payah berusaha berlari sekencang mungkin. Baju yang kubawa tidak banyak. Dan aku tidak memikirkan akan turun hujan selama di Jakarta. Tapi, mau bagaimana lagi. Bajuku tetap saja basah.

Sumber : Ridha
Sesampainya di halte, rupanya sudah banyak sekali orang di sana. Penuh. Akhirnya, aku hanya bisa berdiri di pinggir halte, sambil berusaha merapat ke tengah agar tak terkena hujan. Nah, di sinilah hangat persaudaraan itu ada. Salah seorang temanku yang ada di dalam halte, memintaku untuk gantian. Katanya, dia saja yang di pinggir, dan aku di dalam, agar tak terkena hujan. Aku tidak masalah sebetulnya terkena hujan. Bahkan kalau membawa baju lebih, aku akan senang sekali bisa hujan-hujanan. Tapi aku tau, kami ini saudara yang sudah seharusnya saling menjaga.

Tak lama, bis kuning yang kami tunggu pun tiba. Tapi, penuh. Dan di sinilah hangat persaudaraan itu terjadi lagi. Para akhwat dipersilahkan masuk dan pulang terlebih dahulu, dengan ditemani dua orang ikhwan. Namun karena memang sudah penuh, tidak semua dari kami naik ke dalam bis. Akhirnya beberapa dari kami menunggu kedatangan bis berikutnya. Dan ketika sudah datang, lagi-lagi para ikhwan mempersilahkan akhwat untuk masuk terlebih dahulu. Pun ketika sudah di dalam bis, mereka—para ikhwan memastikan bahwa semua akhwat sudah mendapatkan tempat duduk, sedang mereka sendiri berdiri. Yah, walaupun sepele, biasa, dan sederhana, aku merasa terharu. Kami ini saudara. Meski para akhwat adalah para perempuan tangguh, para ikhwan tetap saja memastikan bahwa kami mendapat tempat duduk. Aku mau saja berdiri. Tapi kami ini saudara. Sudah seharusnya saling menjaga satu sama lain.

Sudah selesai? Belum. Tiba di halte tempat kami harus turun, para ikhwan memastikan bahwa akhwat sudah semuanya turun dan tidak ada yang tertinggal. Kemudian kami harus melewati jembatan layang untuk bisa mencapai seberang. Di sinilah hangat persaudaraan itu terulang kembali. Kondisi jembatan layang yang sudah agak rusak, membuat beberapa dari akhwat agak ketakutan juga. Tapi kalian tau? Di beberapa pos di jembatan layang tersebut, ada ikhwan yang menjaga dan memastikan bahwa kami—para akhwat baik-baik saja. Bahkan ada bagian jembatan yang berlubang kecil yang dijaga oleh satu ikhwan, agar kami para akhwat tak melewati bagian tersebut. Hei, kalau siang hari dan kondisi baik-baik saja itu biasa. Tapi ini? Kami tengah diguyur hujan deras. Cuaca sudah gelap dan udara sekitar begitu dingin sedang kami harus segera tiba di asrama untuk persiapan acara selanjutnya. Tapi sungguh hangat persaudaraan dan kepedulian untuk saling menjaga satu sama lain ini membuatku terharu. Dan itu, belum usai.

Puncaknya adalah ketika kami sampai di gerbang asrama. Karena hujan turun begitu deras, kacamataku basah dan itu membuatku sulit untuk melihat. Aku tak tahu siapa yang berdiri di dekat gerbang itu. Aku tidak tahu sosok siapa yang dengan tulusnya menghitung satu persatu dari kami yang masuk sambil berlari melawan hujan. Aku hanya mendengar suaranya. Suara tulusnya yang memastikan bahwa kami semua ber-60 sudah tiba di asrama dengan selamat. Allah, lalu bagaimana caraku untuk bersyukur telah Kau beri saudara yang begitu tulusnya?

Lalu aku tersenyum penuh haru. Kami hidup bersama-sama. Menjalani 22 bulan yang pastinya tidak mudah. Penuh rintangan, kesulitan, luka, dan air mata. Tapi Allah dengan baiknya memberi kami saudara yang akan membersamai perjuangan ini sampai surga. Sungguh bersama kesulitan ada kemudahan, sungguh bersama tekad juang Rumah Kepemimpinan ada saudara yang senantiasa menjaga satu sama lain dengan tulus dan penuh kepedulian.

Sumber : Muthia
Nakula dan Srikandi 8, hujan dan UI menjadi saksi hangatnya persaudaaraan kita yang abadi. Sampai mati. Sampai di Surga nanti.


Baru saja berakhir

Hujan di sore ini

Menyisakan keajaiban
Kilauan indahnya pelangi

Tak pernah terlewatkan

Dan tetap mengaguminya

Kesempatan seperti ini
Tak akan bisa di beli

Bersamamu kuhabiskan waktu

Senang bisa mengenal dirimu

Rasanya semua begitu sempurna
Sayang untuk mengakhirinya

Melawan keterbatasan

Walau sedikit kemungkinan

Tak akan menyerah untuk hadapi
Hingga sedih tak mau datang lagi

Bersamamu kuhabiskan waktu

Senang bisa mengenal dirimu

Rasanya semua begitu sempurna
Sayang untuk mengakhirinya

Janganlah berganti

janganlah berganti

janganlah berganti
Tetaplah seperti ini

janganlah berganti

janganlah berganti

Tetaplah seperti ini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar