my graduation

my graduation

Kamis, 02 Juni 2016

Kisah Inspiratif Spesial SBMPTN : Apapun Jurusannya . . .

02 Juni 2016


Halo pembaca :D
Wih. Udah lama banget ya aku ga nulis.. hiks hiks. Maafkan L
Semoga semester 3 bisa lebih produktif lagi, aamiin..

Nah, tulisan kali ini sebenarnya tujuannya banyak. Tapi yang paling penting adalah menceritakan sedikit banyak mengenai apa yang sudah kualami sepanjang 2 semester aku mengecap kehidupan di bumi Gadjah Mada.

Judulnya di atas kan Apapun Jurusannya . . . 
Apa sih maksudnya?

Oke. Jadi, sekitar 3 hari lagi bakalan ada yang namanya UTUL UGM (Ujian Tulis UGM). Buat para pejuang UGM pastinya udah tau dan bahkan ikut ujian ini juga. Dua hari yang lalu juga udah SBMPTN kan? Beberapa temenku ada juga yang ikut tes ini. Lalu, apa hubungannya?

Bisa melanjutkan pendidikan kejenjang perguruan tinggi adalah idaman setiap orang. Tapi yang masih sering terjadi adalah, beberapa diantara kita hanya ingin saja. Pokoknya kuliah. Tidak tahu jelas jurusan apa yang akan diambil, bagaimana menyikapi nanti ke depannya jika sudah menjadi mahasiswa, dan masih banyak yang lain. Itu masalah pertama. Masalah kedua, beberapa anak sudah cukup baik memahami jurusan apa yang akan mereka pilih, tetapi terkendala oleh keinginan orang tua. Seringkali terjadi perbedaan keinginan jurusan antara orang tua dan anak. Apakah itu berhubungan dengan prospek kerja, jodoh, atau segala macam hal yang pada akhirnya membuat si anak kembali bingung memilih jurusan.

Yuk, belajar dari pengalaman saya.

Satu tahun memutuskan tidak kuliah karena kukuh dengan pendirianku yang sangat ingin masuk TI(Teknologi Informasi). Aku lupa sebenarnya apa alasanku saat itu sampai begitu inginnya masuk jurusan TI. Mungkin karena kesukaanku menonton film barat yang teknologinya sudah super canggih. Membayangkan bekerja di MIT Amerika, atau berperan seperti para detektif yang bisa melakukan berbagai macam penyamaran, dan sebagainya. Sampai pada akhirnya H-2 minggu sebelum SBMPTN aku datang ke salah seorang guru BK, dan disarankan untuk mengambil jurusan Ilmu Komunikasi atau Sastra Indonesia. Cukup terkejut, karena dua jurusan tersebut memang tidak pernah terlintas di pikiranku. Dalam artian, aku anak IPA, senang dengan hal-hal yang sarat dengan angka dan kerumitan, tiba-tiba disarankan untuk masuk ke jurusan yang bahkan bisa dibilang tak mengandung angka sama sekali. Seketika aku berfikir, bisakah aku hidup tanpa kebiaasanku menghitung?*tsah

Baik. Setelah memantapkan hati, akhirnya aku memutuskan untuk pindah ke kelas Soshum. Bukan hal yang aneh ketika teman-temanku menganggapku gila. Aku menghabiskan seluruh buku latihan Soshum hanya dalam waktu 2 minggu. Aku membanting setir sedemikian rupa, yang juga sedikit membuat ibuku berkomentar. “Kenapa ga ngambil jurusan yang bisa mendekatkan diri kepada Allah, seperti mba Ufa, Biologi?” dan saat itu aku hanya menjawab “Dengan masuk sastra aku bisa menulis.” Hanya itu.

Lalu mulailah perjuanganku di sini. Di UGM. Sebagai anak sastra—yang sebetulnya terkadang aku masih sering ragu sedang berpijak dimana. Sampai suatu saat, aku bertemu dengan seorang dosen. Pribadinya lucu, tetapi tegas. Baik hati dan bijaksana. Sekadar info, dulunya di masa SMA beliau adalah anak Biologi. Dan masuk Sastra Indonsia di UGM juga bukan merupakan pilihan pertama. Singkatnya, 11-12 denganku masalah pemilihan jurusan.

Dalam penyampaian materi, secara tersirat beliau seringkali menyelipkan terjemahan ayat Al-Quran. Pun juga mengenai kisah-kisah yang ada di dalam Al-Qur’an. Sejak saat itu, aku kagum dengan beliau. Beliau bisa menyampaikan hal tersebut dalam mata kuliah yang beliau sampaikan sekaligus. Lalu, tiba-tiba aku teringat sesuatu.

Aku pernah menghafal ayat ini. Hanya saja aku lupa ayat berapa dan surah apa. Sampai akhirnya kutemukan, rupanya QS.Al Baqarah : 104.
Kira-kira begini artinya :
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu katakan rā’inā tetapi katakanlah Unẓurnā dan dengarkanlah. Dan orang-orang kafir akan mendapat azab yang pedih.”
Kemudian terdapat keterangan :
rā’inā artinya perhatikanlah Kami. Tetapi orang Yahudi bersungut mengucapkannya, sehingga yang mereka maksud ialah ru’ūnah yang artinya bodoh sekali, sebagai ejekan kepada Rasulullah. Itulah sebabnya Allah menyuruh sahabat-sahabat menukar rā’inā dengan  Unẓurnā yang sama artinya dengan rā’inā.

Lalu, apa yang mau dibahas di sini?

Yap. Salah satu bidang kajian bahasa yang kini merupakan salah satu mata kuliahku, Fonologi. Perhatikan apa yang terdapat dalam keterangan ayat di atas. Kata rā’inā yang diucapkan secara bersungut akan berubah menjadi kata ru’ūnah yang artinya sangat jauh berbeda. Di sinilah fonologi memainkan perannya. Di dalam fonologi kita mempelajari bagaimana bunyi-bunyi bahasa itu dihasilkan. Yang mana apabila terdapat satu kesalahan saja pada cara pengucapan, dapat membuat kesalahan yang fatal. Bukankah simpel sekali contoh diatas? Hanya sebuah kata yang semestinya diucapkan dengan posisi mulut membentuk bunyi o, tetapi justru diucapkan dengan posisi mulut membentuk bunyi u. Sehingga menimbulkan arti yang sangat jauh berbeda.

Jika mengambil contoh dalam Bahasa Indonesia, maka kita akan menjumpai hal-hal semacam ini :

Gambar 1
Gambar 2

Apa yang membedakan kedua gambar di atas?

Ya. Hanya kata kamu dengan kami, dan ku dengan mu. Untuk kata kami dengan kamu, yang membedakan hanya bunyi u dan i. Yang mana perbedaan tersebut dapat terjadi hanya dengan perbedaan bentuk mulut kita saat mengucapkannya. Coba kalian mengucapkan kata kamu dengan meringis? Apakah bisa? Tentu tidak. Dan kabar buruknya, kesalahan dalam bunyi bahasa yang seringkali dipandang reme, bisa menghasilkan arti yang sangat jauh berbeda dan itu fatal.

Jadi, masih menganggap bahasa dan sastra itu hal remeh?*uhuk

Gambar 1 adalah pernyataan Sherlock Holmes kepada sahabatnya. Sedangkan gambar 2 adalah pernyataan yang kelak akan aku sampaikan pada partnerku—kalau sudah ketemu*tsah.

Kelihatannya sepele sekali, bukan? Tapi hal-hal sedemikian rupanya dibahas dan dikaji dalam Fonologi. Dan seketika aku tersadar. Bahwa Al-Qur’an memiliki komponen yang luar biasa dalam hal sastra dan bahasa.

Beralih kepada hal lain. Puisi. Al-Qur’an memiliki bahasa yang begitu indahnya melibihi puisi jenis apapun. Terpikirkah kalian bahwa ada unsur puisi di dalam Al-Qur’an?
Mari kita tengok ayat berikut :
“Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba, sekiranya mereka mengetahui” (Al-Ankabut : 41)

Ayat ini populer sekali, bukan? Di dalam ayat tersebut disebutkan, orang yang mengambil pelindung selain Allah seperti laba-laba yang membuat rumah. Kalian pernah melihat rumah atau sarang laba-laba? Bagaimana bentuknya? Tipis dan rapuh sekali bukan? Jangankan tersenggol, tersentuh jari kita saja terkadang langsung rusak. Inilah yang kemudian dijadikan perumpamaan bagi orang-orang yang berlindung selain kepada Allah. Mereka layaknya berlindung pada sesuatu yang amat sangat lemah dan rapuh. Nah, hubungannya dengan puisi, kalau dalam mata kuliah teori puisi, perumpamaan seperti itu dinamakan dengan bahasa kiasan perbandingan atau simile

Jangankan memberi perlindungan kepada yang lain, melindungi rumahnya sendiri saja tidak mampu. Semoga kamu tidak ya*ehm

Lalu, apa kesimpulannya?

Satu hal yang paling penting, apapun yang kalian cari, semuanya ada di dalam Al-Qur’an. Jangankan korelasi antara jurusan kalian dengan Al-Qur’an. Semua hal yang kamu ingin tahu, yang kamu ingin cari, ada di Al-Qur’an. Hanya saja kita yang terkadang masih belum tergerak hatinya untuk bisa mengkaji Al-Qur’an lebih dalam.

Dan, apapun jurusan kalian nanti, terimalah dengan rasa syukur. Bagaimana cara bersyukurnya? Tentu dengan berjuang dan berusaha semaksimal mungkin dengan apa yang telah kalian pilih. Tidak ada jurusan yang buruk, apalagi yang sia-sia. Karena semua itu adalah Ilmu Allah, yang semuanya ada di dalam Al-Qur’an.

Jadi, apapun jurusannya..

APAPUN JURUSANNYA, BERJUANGNYA BERSAMA AL-QUR’AN J

Salam #MudaMenginspirasi !






2 komentar: